Hukum Mendel

Pengertian, hukum mendel I dan II, serta perbedaan diantara kedua hukum terebut, serta jenis – jenis penyimpangan semu hukum mendel. Kalian pasti tertarik jika membahas tentang persilangan Gen? Tapi yang perlu kalian ingat, pernyataan tentang pembentukan gen maupun pewarisan sebuah sifat disini terjadi pada orginisme atau sebuah tumbuhan, bukan pada manusia, biasa disebut dengan Hukum Mendel.

Lalu, Apa hukum mendel itu?

Pegertian Hukum Mendel

Hukum Mendel adalah sebuah hukum dalam bidang ilmu biologi yang memberikan bukti tentang warisan gen dari orang tua kepada sifat – sifat anak. Sifat tersebut adalah sebuah sifat genetik, seperti bentuk tubuh, warna bulu, maupun jenis kulitnya.

Hukum tentang pewarisan sifat pada organisme memiliki 2 kategori hukum, yaitu : Hukum pemisahan dan berpasangan. Hukum – hukum tersebut akan dibahas secara lebih lengkap pada bab di bawah ini.

Hukum-Hukum Pewarisan Mendel

Sebuah karya tentang percobaan persilangan tanaman ‘ercis’ dalam menjelaskan pewarisan sifat kepada keturunan oleh seorang ilmuwan biologi Gregor Johann Mendel memiliki 2 bagian hukum sebagai berikut :

Hukum Mendel I

Hukum mendel I atau pemisah, disebut juga dengan segregation.

Bunyi Hukum Mendel I

"The law of segregation of allelic genes".

Maksudnya adalah hukum pemisah gen sealela, pemisahan alel – alel terjadi saat terbentuknya gamet (Diploid – Haploid). Gamet merupakan sel reproduksi atau kelamin yang berisi kromosom haploid.

Masih belum mengerti? Baiklah, langsung saja pahami dengan baik contoh tentang hukum pemisah gen sealela berikut.

Contoh Persilangan Monohibrid

contoh hukum mendel persilangan monohibrid

Mawah merah (sifat : dominan) disilangkan (X) dengan mawar putih (sifat : resesif).

  • P1 (Perilangan 1) = Mawar merah X mawar putih
  • MM X mm
  • Gamet = M m
  • F1 (Fenotip 1) = Mm (merah 100%)
  • P2 = Mm X Mm
  • Gamet = M M
  • m m
  • F2 =
Mm
MMMMm
mMmmm
Tabel persilangan Monohibrid

Keterangan X Monohibrid

  • MM adalah merah
  • Mm yaitu merah
  • Sedangkan mm berarti putih.
  • Rasio Fenotipe F2 = 3 : 1, yaitu merah : putih
  • Rasio genotipe F2 = 1 : 2: 1 atau MM : Mm : mm

Fenotipe merupakan karakterisik (karakteristik secara struktural maupun biokimiawi), dan pada contoh tersebut rasio atau perbandingan fenotipenya adalah 3 : 1 (merah : putih).

Nah, sedangkan genotip disebut juga dengan tipe gen. Terdiri dari 2 Tipe gen yaitu homozigot seperti : MM dan mm (pasangan huruf yang sama), dan tipe heterozigot seperti : Mm (satu pasang yang berbeda huruf).

Sudah sampai pada contoh hukum, seharusnya sudah paham bukan? Maka selanjutnya kalian harus pelajari hukum mendel II agar tidak tumpang tindih pemahaman tentang mendel.

Baca juga: Hukum Termodinamika

Hukum Mendel II

Mendel II disebut juga dengan asortasi atau berpasangan. Pernyataan tentang hukum mendel II ditunjukkan pada bunyi hukum di bawah ini.

Bunyi Hukum Mendel II

"The law of independent assortment of genes".

Maksud mendel yang kedua adalah mengatur tentang pengelompokkan atau berpasangan gen secara bebas, dan terjadinya perkawinan dihibrid hingga membentuk gamet.

Contoh Persilangan Dihibrid

Ercis berbiji bulat warna kuning (sifat : dominan) disilangkan (X) dengan ercis berbiiji kisut warna hijau (sifat : resesif).

Jadi,

  • P1 = Bulat kuning X Kisut hijau
  • BBKK X bbkk
  • Gamet = BK bk
  • F1 = BbKk (Bulat Kuning 100%)
  • P2 = BbKk X BbKk
  • Gamet = BK BK

Bk Bk

bK bK

bk bk

  • F2 =
BKBkbKbk
BKBBKKBBKkBbKKBbKk
BkBBKkBBkkBbKkBbkk
bKBbKKBbKkbbKKbbKk
bkBbKkBbkkbbKkbbkk
Tabel Persilangan Dihibrid

Keterangan X Dihibrid :

  • Bulat Kuning (pasangan yang harus memiliki huruf “B” dan “K“) = 9.
  • Bulat Hijau (pasangan yang memiliki huruf “B” dan “k“) = 3.
  • Kisut Kuning (pasangan yang memiliki huruf “b” dan “K“) = 3.
  • Kisut Hijau (pasangan yang memiliki huruf “b” dan “k”) = 1.

Pernyataan dari keterangan tersebut berdasarkan dari “tabel persilangan dihibrid”, dimana hasil Bulat Kuning ditunjukkan pada pasangan huruf yang bold, sedangkan Bulat Hijau adalah pasangan huruf miring, dan pasangan huruf yang bergaris bawah adalah Kisut Kuning, satu pasangan lagi yaitu Kisut Hijau dengan hasil 1 fenotipe.

Jadi, rasio fenotipe F2 = 9 : 3 : 3 : 1.

Wah, setelah mendapatkan dua contoh sekaligus dari masing – masing hukum tersebut di atas, tentu kalian semakin paham dengan pernyataan atau definisi dari hukum – hukum tersebut.

Akan tetapi, apakah kalian tahu tentang perbedaan dari kedua hukum tersebut? Mari kita bahas saja pada paragraf berikut ya!

Perbedaan Hukum Mendel I dan II

Hukum MendelPerbedaan
I1. Hukum segresi atau pemisahan.
2. Saat Meiosis, dua dari masing – masing pasangan akan menjadi gamet yang berbeda.
3. Perilaku kromosom.
II1. Hukum assortasi atau pengelompokkan ataupun berpasangan.
2. Semua kombinasi alel diwariskan dengan probabilitas yang sama.
3. Perilaku kromosom yang non-homolog.
Tabel Perbedaan Hukum Mendel I dan II

Berdasarkan dari contoh persilangan monohibrid dan dihibrid, hasil rasio fenotipe memiliki perbedaan yang signifikan yaitu : 3 : 1 dengan 9 : 3 : 3 : 1. Nah, perbedaan tersebut menajadi latar belakang adanya penyimpangan hukum mendel.

Apa penyimpangan hukum mendel tersebut?

Penyimpangan Hukum Mendel

Tidak semua hasil perbandingan mendel sesuai dengan perbandingan yang telah dirumuskan mendel. Terdapat hasil yang jauh dari perbandingan mendel yaitu penyimpangan hukum mendel, ada juga hasil rasio yang masih mengambil acuan dari perbandingan mendel disebut dengan penyimpangan semu hukum mendel.

Nah, yang akan kita bahas tentu saja penyimpangan yang masih mengacu pada perbandingan mendel, hasil rasio tidak jauh dari mendel.

Penyimpangan Semu Hukum Mendel

Penyimpangan yang terjadi karena terdapat 2 atau lebih pasangan gen yang saling mempengaruhi, dan menghasilkan rasio (F) yang berbeda dari dasar dihibrid hukum mendel.

Berikut ini adalah salah satu jenis dari penyimpangan semu hukum mandel, yaitu :

Polimeri

Interaksi 2 gen atau lebih saling mempengaruhi karakter maupun sifat yang sama, dan menyebabkan hubungan yang terus bertambah secara kumulatif.

Contoh :

Gandum berkulit merah disilangkan (X) dengan gandum berkulit putih, maka :

  • P1 = Gandum berkulit merah X Gandum berkulit putih
  • M1M1M2M2 X m1m1m2m2
  • Gamet = M1M2 X m1m2
  • F1 = M1m1M2m2 (merah muda)
  • P2 = M1m1M2m2 X M1m1M2m2
  • Gamet = M1M2 M1M2

M1m2 M1m2

m1M2 m1M2

m1m2 m1m2

  • F2 =
M1M2M1m2m1M2m1m2
M1M2M1M1M2M2M1M1M2m2M1m1M2M2M1m1M2m2
M1m2M1M1M2m2M1M1m2m2M1m1M2m2M1M1M2m2
m1M2M1m1M2M2M1m1M2m2m1m1M2M2m1m1M2m2
m1m2M1m1M2m2M1m1m2m2m1m1M2m2m1m1m2m2
Tabel Persilangan Polimeri

Keterangan berdasarkan “tabel persilangan polimeri”, yaitu :

  • Pasangan huruf yang di bold = merah tua sekali.
  • Pasangan huruf yang diberi garis bawah = merah muda.
  • Pasangan huruf yang miring = merah tua.
  • Pasangan huruf yang bold sekaligus miring = putih.
  • Sedangkan pasangan huruf yang tidak diberi garis bawah, dimiring dan dibold = merah.

Jadi, berdasarkan karakternya, rasio Fenotip (F2) = merah : putih = 15 : 1.

Selain polimeri, masih terdapat beberapa jenis penyimpangan semu lainnya seperti : Kriptomeri (rasio = 9 : 3 : 4), Epistasis – Hipostasis (rasio = 12 : 3 : 1), Komplementer (rasio = 9 : 7), dan juga interaksi alel.

Pelajari semua materi hukum tersebut, mulai dari pengertian hukum mendel, hukum mendel I dan II, perbedaan kedua hukum terebut, serta jenis – jenis dari penyimpangan semu hukum mendel. Jika sudah dipelajari, maka akan mudah memahami keseluruhan materi hukum, dan dapat merangkai makalah hukum mendel, serta jurnal hukum mendel dengan baik dan sempurna.

Tinggalkan komentar