Shara Nurrahmi S.Pd Seorang guru dan penulis konten pendidikan.

Kerajaan Kediri

7 min read

Kerajaan Kediri

Kerajaan Kediri merupakan salah satu kerajaan dengan corak Hindu yang terkenal di Nusantara dan termasuk yang tertua dari lainnya. Kerajaan ini juga dikenal dengan nama lain Kerajaan Panjalu. Pusat pemerintahannya bertempat di Kota Daha (Dahanapura). Selama 177 tahun kerajaan ini berkuasa, nusantara telah banyak mendapatkan warna peradaban dari kerajaan ini.

Bahkan di masa kejayaannya, wilayah kekuasaan kerajaan ini meluas hingga ke beberapa daerah di Nusantara, salah satunya di Sumatera. Jika Anda ingin mengetahui lebih lengkap mengenai kerajaan Kediri, simak pembahasannya berikut ini.

Peninggalan Kerajaan Kediri

Terdapat beberapa jenis peninggalan Kerajaan Kediri, baik berupa prasasti maupun kitab atau karya sastra tersohor. Adapun beberapa prasasti dari kerajaan ini adalah Prasasti Banjaran (1052 M), Prasasti Turun Hyang (1052 M), Prasasti Ngantang (1135 M), Prasasti Padlegan (1116 M), Prasasti Lawudan (1205 M), dan Prasasti Jaring (1181 M).

Pada era Kerajaan Kediri, karya sastra berwujud kitab mengalami perkembangan yang amat pesat. Terdapat banyak karya sastra terkenal yang dihasilkan. Beberapa kitab terkenal tersebut adalah Smaradhahana (Mpu Dharmaja), Wertasancaya (Mpu Tan Akung), Kresnayana (Mpu Triguna), Lubdaka (Mpu Tan Akung), Baharatayuda (Mpu Panuluh dan Mpu Sedah), Samanasantaka (Mpu Monaguna), serta Gatotkacasraya dan Hariwangsa (Mpu Panuluh).

Kitab-kitab tersebut mengajarkan umat di dunia untuk selalu berbuat kebaikan. Karena melalui perbuatan baik pasti dapat menciptakan kerukunan dan persatuan umat yang mengarah pada kesatuan bangsa. Bangsa yang berhasil/sukses merupakan bangsa yang mampu menghargai jerih payah rakyatnya.

Sejarah Kerajaan Kediri

Sejarah kerajaan Kediri sebelum terbelah menjadi dua di bawah pimpinan Karya Sastra Kerajaan Kediri, kerajaan ini memiliki nama Panjalu. Kemudian lahirlah kerajaan Janggala yang merupakan pecahan Kerajaan Panjalu. Sementara Kahuripan merupakan kota yang ditinggalkan oleh Airlangga, lalu menjadi ibukota Kerajaan Jenggala.

Kerajaan Jenggala memiliki wilayah meliputi Malang, Pasuruan, Surabaya, serta daerah sungai Brantas yakni pelabuhan kota Rembang. Sedangkan kerajaan Panjalu memiliki wilayah Madiun dan Kediri. Batas wilayah kedua kerajaan tersebut adalah Gunung Kawi dan Sungai Brantas. Hal ini dikisahkan dalam Prasasti Mahaksubya yang terdapat di kitab Negarakertagama dan Calon Arang.

Kerajaan Kediri mengalami masa kehancuran di bawah pemerintahan Kertajaya. Hal ini disebabkan Kertajaya memiliki sikap yang sangat bertentangan dengan para Brahmana. Saat itu Kertajaya menyuruh kaum Brahmana menyembah dirinya seperti menyembah dewa. Perintah Kertajaya ditolak para kaum Brahmana sebab dinilai telah melanggar agama.

Kemudian Kaum Brahmana meminta bantuan pada Ken Arok. Ia adalah seorang pimpinan Kadipaten Tumapel. Para Brahmana meminta bantuan Ken Arok untuk menyerang Kertajaya. Akhirnya, pada peperangan tersebut Ken Arok berhasil menang dan membuat Kerajaan Kediri berada di bawah kekuasaan Wilayah Tumapel. Kemudian kerajaan ini berubah nama menjadi Kerajaan Singasari.

Letak Kerajaan Kediri

Letak Kerajaan Kediri atau dikenal juga dengan nama Kerajaan Kadiri/Panjalu bertempat di Jawa Timur. Tepatnya, pusat pemerintahan kerajaan ini berada di Dahanapura. Saat ini, Daha adalah salah satu bagian dari Kota Kediri.

Sebenarnya, kota Daha telah ada sebelum kerajaan ini berdiri. Arti dari nama kota ini adalah “kota api”. Nama Dahanapura tertulis dalam prasasti yang dikeluarkan Airlangga di tahun 1042 M yakni Prasasti Pamwatan. Hal ini pun sesuai dengan berita yang dimuat dalam Serat Calon Arang. Di sana tertulis saat akhir masa pemerintahan Airlangga, pusat kerajaan tak lagi bertempat di Kahuripan. Pusat kerajaan ini akan berpindah ke Daha.

Kerajaan ini lebih dikenal dengan nama Kediri atau Kadiri yang diambil dari bahasa Sansekerta. Arti nama dari kerajaan ini adalah mengkudu. Buah mengkudu dipercaya mampu menjadi obat. Sementara kulit kayu pohon mengkudu dapat menghasilkan zat berwarna ungu kecoklatan yang biasanya dimanfaatkan untuk membuat kain batik.

Masa Kejayaan Kerajaan Kediri

Masa kejayaan Kerajaan Kediri terjadi ketika pemerintahan Prabu Jayabaya. Pada saat itu, wilayah kerajaan menjadi semakin luas hingga hampir menguasai seluruh pulau Jawa. Di samping itu, kerajaan yang dipimpin Prabu Jayabaya memberikan pengaruh hingga ke kerajaan Sriwijaya di Pulau Sumatera.

Berdasarkan catatan Chu Fan Chi, disebutkan Jawa merupakan maharaja yang mempunyai beberapa daerah jajahan. Daerah-daerah jajahan tersebut adalah Pacitan, Medang, Tumapel, Dieng, Hujung Galuh, Jenggi, Sumba, Papua, Bali, Gurun, Tanjungpura, Timor, Banggai, dan Maluku.

Karena wilayah kekuasaan kerajaan ini begitu luas, hal ini menjadikan kediri sebagai kerajaan yang sangat disegani. Tak hanya termasyur karena kekayaan dan kekuasaannya, kerajaan ini juga dikenal karena memiliki karya seni sastra yang maju pesat.

Penyebab Runtuhnya Kerajaan Kediri

Hal yang menjadi penyebab runtuhnya Kerajaan Kediri adalah pertentangan yang terjadi pada masa pemerintahan Kertajaya. Hal ini disebabkan Raja Kertajaya meminta para Brahmana untuk menyembah padanya. Selain itu, keruntuhan juga muncul karena provokasi dari Ken Arok.

Saat itu rakyat Kediri yang menganut agama Hindu diprovokasi oleh agen-agen suruhan Ken Arok. Kemudian pada tahun 1254 terjadi perang ganter antara pasukan Raja Kertajaya melawan pihak Brahmana yang memperoleh bantuan dari Ken Arok. Kaum Brahmana banyak yang meminta bantuan ke Tumapel karena Kertajaya mengurangi hak-hak mereka.

Pada perang Ganter, Ken Arok dan Brahmana berhasil mengalahkan Raja Kertajaya di daerah Ganter (Pujon, Malang). Dengan kekalahan Kertajaya, maka berakhirlah pula riwayat kerajaan yang dia pimpin.

Ken Arok sebelumnya telah bercita-cita untuk memerdekakan Tumapel yang berada di bawah kekuasaan Kediri. Sehingga, setelah kematian Kertajaya, harapannya tersebut terwujud. Ken Arok kemudian menggabungkan kembali kedua wilayah tersebut dan menjadi raja dari kerajaan Singasari.

Kehidupan Politik dan Sosial Kerajaan Kediri

Kehidupan Politik dan Sosial Kerajaan Kediri bermula dari Raja Mapanji Garasakan mempunyai masa pemerintahan yang singkat. Kemudian ia digantikan oleh Mapanji Alanjung mulai tahun 1052 M hingga 1059 M. Setelah itu, kembali digantikan oleh Sri Maharaja Amarotsaha.

Pertempuran kerajaan Jenggala dan kerajaan Panjalu berlangsung hingga 60 tahun. Tidak terdapat kabar yang pasti mengenai kedua kerajaan tersebut hingga kemunculan Raja Bameswara. Raja ini muncul pada tahun 1116 M hingga 1136 M dari Kediri.

Pada saat itu, ibukota kerajaan Panjalu berpindah dari Daha ke Kediri hingga lebih dikenal dengan julukan kerajaan Kediri. Raja Bameswara menggunakan lencana yang berbentuk tengkorak bertaring di atas bulan sabit. Lencana tersebut diberi nama Candrakapala. Setelah Bameswara mengakhiri masa pemerintahannya, Jayabaya melanjutkan tahta dan berhasil mengalahkan kerajaan Jenggala.

Sementara itu, dari segi kehidupan sosial, kerajaan ini dikenal sangat baik dan sejahtera. Rakyatnya hidup makmur dan tenang. Terbukti dari rumah rakyat yang tampak baik, bersih, dan rapi serta dilengkapi ubin berwarna kuning dan hijau. Para rakyat mengenakan kain hingga bawah lutut serta rambut diurai. Perkawinan rakyat di kerajaan tersebut keluarga pengantin wanita akan menerima maskawin berwujud emas. Karena masyarakat hidup dengan damai, pada masa itu seni kesusastraan dapat berkembang maju. Hasil karya seni sastra tersebut dapat dilihat hingga saat ini.

Beberapa karya sastra tersebut telah banyak diulas. Beberapa pengarang kitab sastra yang dikenal banyak orang adalah Mpu Triguna, Mpu Monaguna, Mpu Tan Akung, serta beberapa pengarang lainnya.

Dalam buku Chou Ju Kua, diceritakan masyarakat kerajaan ini menganut dua agama yakni Hindu dan Buddha. Rakyat kerajaan ini terkenal berani dan emosional. Ketika mereka memiliki waktu luang, biasanya mereka habiskan dengan melakukan adu hewan. Masyarakat di daerah tersebut telah mengenal mata uang yang terbuat dari perak dengan campuran tembaga.

Karya Sastra Kerajaan Kediri

Terdapat beberapa karya sastra kerajaan kediri. Beberapa kitab tersebut di antaranya:

Kitab Gatotkacasraya dan Kitab Hariwangsa. Kedua kitab ini diubah oleh penulis kitab termasyhur yakni Empu Panuluh. Kitab Bharatayudha, kitab ini diubah oleh Empu Panuluh bersama Empu Sedah. Kitab Samanasantaka yang dikarang oleh Mpu Monaguna. Tulisan ini bercerita tentang Bidadari Harini yang tersohor untuk Begawan Trenawindu.

Ada juga Kresnayana yang dibuat oleh Empu Triguna. Kitab tersebut memuat riwayat Kresna sebagai anak lelaki yang nakal. Namun, ia dikasihi oleh setiap orang karena gemar menolong dan sakti. Kitab Lubdaka yang dikarang oleh Mpu Tan Akung.

Pada kitab ini dikisahkan Lubdaka sebagai sosok pemburu yang semestinya masuk ke neraka. Namun, karena pemujaan yang ia lakukan istimewa, ia pun ditolong oleh dewa. Kemudian roh Lubdaka diangkat menuju surga. Kitab Smaradhahana yang merupakan gubahan Empu Dharmaja berisi berbagai pujian untuk raja sebagai titisan dari Dewa Kama.

Dalam kitab Smaradhahana juga diceritakan bahwa ibukota kerajaan tersebut bernama Dahana. Terakhir terdapat kitab Wertasancaya yang dikarang oleh Empu Tan Akung. Di dalamnya memuat petunjuk mengenai bagaimana membuat syair yang indah.

Selain karangan penulis Kediri, terdapat pula kitab yang menceritakan kehidupan kerajaan kediri yakni Kitab Chu Fang Chi. Said Asia Tenggara dalam karyanya mempromosikan dua kerajaan besar yang terkenal karena kekayaannya. Kedua kerajaan tersebut adalah Jawa dan Sriwijaya. Di dalamnya memuat kondisi koloni serta sifat penghuni kedua kerajaan tersebut.

Sistem Pemerintahan Kerajaan Kediri

Sistem pemerintahan Kerajaan Kediri mengalami beberapa kali pergantian tahta. Sri Jayawarsa Digjaya Shastraprabhu adalah raja pertama yang memerintah. Hal ini diketahui dari prasasti berangka (1104 M) dan dijuluki sebagai titisan Wisnu.

Kameshwara merupakan raja kedua dengan gelar Kameshwara I pada tahun 1115 M sampai 1130 M. Salah satu raja yang dikenal taat beribadah dan berbudaya adalah Prabu Sarwaswera. Ia dikenal berpegang teguh pada prinsip tat wam asi. Menurut Prabu Sarwaswera, tujuan hidup manusia adalah moksa.

Prabu Kroncharyadipa adalah nama yang memiliki makna benteng kebenaran. Ia memang dikenal sangat adil pada rakyatnya dan taat beribadah. Ia selalu mengendalikan diri selama memerintah dan memegang prinsip sad kama murka. Artinya yakni 6 macam musuh dalam setiap diri manusia. Enam musuh tersebut adalah matsarya (iri hati), mada (mabuk), loba (rakus), kama (nafsu), moha (kebingungan), dan kroda (marah).

Prasasti Peninggalan Kerajaan Kediri

Beberapa Karya Prasasti Kerajaan Kediri yang menjadi peninggalan bersejarah, di antaranya yakni Prasasti Banjaran Berangka (1052 M). Prasasti tersebut mengisahkan kemenangan kerajaan Panjalu atas kerajaan Jenggala.

Kemudian terdapat Prasasti Hantang Berangka (1052 M) yang bercerita tentang Kerajaan Panjalu di bawah pemerintahan Jayabaya.

Prasasti Sirah Keting pada tahun 1104 M yang menjelaskan kebaikan Raja Jayawarsa. Ia kerap memberikan hadiah berupa tanah pada rakyatnya sebagai wujud penghargaan.

Prasasti yang ditemukan di Kertosono dan Tulungagung. Prasasti tersebut bercerita tentang keagamaan. Asalnya dari pemerintahan raja Bameswara.

Prasasti Ngantang (1135 M). Peninggalan tersebut membuat kisah Raja Jayabaya yang menghadiahkan rakyat desa Ngantang sebidang tanah yang telah terbebas dari pajak.

Prasasti Jaring (1181 M). Peninggalan ini berasal dari masa pemerintahan Raja Gandra. Diceritakan beberapa nama pejabat yang ditulis menggunakan nama hewan seperti Tikus Jinada dan Kebo Waruga.

Terakhir yakni prasasti Kamulan (1194 M) yang bercerita mengenai masa pemerintahan Raja Kertajaya. Dikisahkan Kediri berhasil dalam mengalahkan musuh yang telah menyerang istana Katang-Katang.

Raja Kerajaan Kediri

Kerajaan Kediri merupakan salah satu kerajaan termahsyur.  Terdapat 8 raja yang pernah memimpin sejak awal berdirinya kerajaan ini hingga masa kehancurannya. Berikut beberapa urutan Raja Kerajaan Kediri berdasarkan urutan masa berkuasanya.

  • Sri Jayawarsa

Sejarah pemerintahan Sri Jayawarsa dikisahkan dalam prasasti Sirah Keting di tahun 1104 M. Isi prasasti tersebut mengisahkan Raja Sri Jayawarsa yang berlaku sangat perhatian pada rakyatnya. Terbukti, selama Sri Jayawarsa memerintah, ia sering memberi hadiah rakyatnya sebagai bentuk penghargaan jasa mereka.

  • Sri Bameswara

Di bawah masa pemerintahannya, ia banyak meninggalkan prasasti yang tersebar di wilayah Tulungagung dan Kertosono. Kebanyakan prasasti-prasasti tersebut berisi tentang hal-hal keagamaan. Melalui prasasti-prasasti yang ditinggalkan tersebut dapat diketahui Sri Bameswara memimpin kerajaannya dengan sangat baik.

  • Prabu Jayabaya

Pada masa pemerintahannya, Prabu Jayabaya berhasil membawa kerajaannya pada masa keemasan. Ia memiliki strategi kepemimpinan yang sangat mengagumkan dalam upaya mensejahterakan dan memakmurkan rakyatnya. Di bawah pemerintahan Prabu Jayabaya, kerajaannya terkenal memiliki tanah yang sangat subur dan menghasilkan panen yang melimpah.

  • Sri Sarwaswera

Sejarah masa pemerintahan Raja Sri Sarwaswera dikisahkan dalam prasasti Padelegan II dan prasasti Kahyunan. Sri Sarwaswera dikenal sebagai raja yang berbudaya dan taat beragama. Menurut Sri Sarwaswera, tujuan akhir kehidupan manusia adalah moksa.

  • Sri Aryeswara

Sri Aryeswara memimpin kerajaannya pada tahun 1171 M. Kisah pemerintahan Sri Aryeswara tertulis pada prasasti Angin. Ganesha adalah lambang kerajaan di masa pemerintahan Sri Aryeswara. Namun, tidak diketahui kapan masa pemerintahan Sri Aryeswara berakhir.

  • Sri Gandra

Masa pemerintahan Sri Gandra banyak menggunakan nama hewan sebagai gelar pangkat seseorang di istana. Beberapa hewan yang digunakan sebagai gelar adalah gajah, kebo, dan tikus.

  • Sri Kameswara

Pada masa pemerintahan Sri Kameswara, kerajaannya mengalami perkembangan pesat. Terbukti dari kitab Smaradhana karangan Mpu  Dharmaja dan kisah-kisah rakyat seperti Panji Semirang.

  • Sri Kertajaya

Masa pemerintahan Sri Kertajaya berlangsung tahun 1190-1222 M. Di bawah kekuasaannya, kestabilan kerajaan menurun karena buruknya hubungan dengan kaum Brahmana.

Makalah Kerajaan Kediri

Makalah Kerajaan Kediri dapat memberikan pengetahuan mengenai salah satu kerajaan Hindu terbesar di Indonesia. Kerajaan ini termasyhur dengan kemakmurannya. Tanah di kerajaan ini sangat subur hingga mudah ditanami tanaman apapun.

Hasil pertanian dan perkebunan pun melimpah ruah. Pada masa pemerintahan Prabu Jayabaya, masyarakat berada dalam kondisi gemah ripah lohjinawi. Prabu Jayabaya saat itu sangat mencintai rakyatnya sehingga membuat kondisi kerajaan menjadi sangat stabil.

Banyak makalah yang membahas tentang masa kejayaan dan juga masa keruntuhan kerajaan ini. Karena memang rata-rata kerajaan Hindu Budha di Indonesia memiliki keterikatan. Baik penguasanya memiliki hubungan kekerabatan atau lokasi berdekatan. Misalnya Kerajaan Kediri dengan Kerajaan Singasari yang menjadi awal Majapahit.

Demikian pembahasan mengenai Kerajaan Kediri. Semoga dapat memberikan wawasan tentang kerajaan-kerajaan di Nusantara.

Shara Nurrahmi S.Pd Seorang guru dan penulis konten pendidikan.

Demokrasi

Shara Nurrahmi S.Pd
7 min read

PPKI

Shara Nurrahmi S.Pd
7 min read

BPUPKI

Shara Nurrahmi S.Pd
7 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *